Memangnya Kalau Pemimpinnya Diganti, Kita Bisa Lebih Sejahtera?





Kalau selama satu periode (5 tahun) gak ada dampak yang berarti, jadiin aja 10 tahun sekali lah pemilihannya. Lebih hemat. #rakyat


Kalau pemilu diadakan 10 tahun sekali. Kita menghemat 26 Triliun. Yang mana bisa kita alihkan menjadi beasiswa untuk Satu Juta Tiga Ratus Ribu orang Mahasiswa S1 ( dengan asumsi biaya S1 sampai lulus Rp 20jt). 

Daripada dipakai buat biaya demokrasi, yang hasilnya sama aja. Pemimpinnya siapapun, hasilnya gak jauh beda. Gak bisa langsung, misalnya, meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari 5% jadi 12%, nilai kurs rupiah dari 14rb dikuatkan jadi 5rb (terhadap dollar).

Ya tentu gak bisa. Karena proses pembangunan membutuhkan jangka waktu yang tidak sebentar, jangka panjang. Oleh sebab itu, periode 5 tahun terlalu singkat, kalau ganti pemimpin, ganti arah kebijakan, target gak akan kecapai jadinya, dan boros biaya pemilu.


Jadikan saja 10 tahun lama setiap periodenya.

___________

Sebetulnya dalam hal ini saya bicara secara umum. Tidak mengarah kepada siapa Pemimpinnya (Presiden, Gubernur, Walikota/ Bupati, Camat, Lurah) saat ini, apalagi mendukung untuk 10 tahun pemerintahannya. Saya ingin mengatakan bahwa, rasanya, siapapun pemimpinnya, dampaknya sama saja. Senada dengan apa yang disampaikan Pak Chatib Basri: "In the beginning, the government can set a very ambitious target. But at the end of the day, every president become a normal president, every cabinet become a normal cabinet, and..., a normal country...." (lihat videonya di link ini)



Bersambung....



No comments:

Post a Comment

Thanks for your coming, say something here :)

Powered by Blogger.