DEFLASI: Memang Nyata atau Hanya Angka?

Baru-baru ini, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat telah terjadi deflasi (menurunnya harga-harga secara umum dan terus-menerus) sebesar 0,18% pada September. Deflasi 0,18% pada September membuat inflasi di tahun kalender dari Januari-September 2018 sebesar 1,94% dan year-on-year (yoy) atau September 2017-September 2018 sebesar 2,88% (Detik Finance).

Apakah angka 0,18% tersebut nyata terasa atau hanya sekedar angka?

Gambar : telegraph.co.uk

Sebagai orang yang (katakanlah) belajar ilmu ekonomi, saya kok akhir-akhir ini menjadi kurang percaya dengan angka-angka/ data makro, seperti: pertumbuhan ekonomi, pendapatan perkapita, indeks persepsi korupsi, indeks pembangunan manusia, dll. Sebab saya selalu membandingkannya dengan keadaan secara individual atau level terkecil dalam suatu ruang lingkup.

Dalam hal ini, deflasi (kebalikan dari inflasi) yang artinya menurunnya harga-harga secara umum dan terus-menerus, rasanya saat ini tidak ada satupun bukti untuk membenarkan terjadinya deflasi. Karena harga-harga barang masih tetap sama, bahkan cenderung semakin meningkat.

Saya kira dengan kondisi yang masih seperti ini, rasanya kecil kemungkinan Indonesia untuk mengalami deflasi yang berarti. Kalaupun ada penurunan, pasti tidak akan lama, langsung naik lagi. Terutama jika dipacu oleh kenaikan harga BBM.

Yang harus juga diperhatikan adalah tidak semua pedagang rela menurunkan harga, meskipun misalnya jika biaya produksinya terpangkas akibat penurunan harga BBM. Tetapi harga-harga tersebut seolah dipertahankan untuk tetap naik.

Jadi teringat omongan Prof. Abdul Hamid (Guru Besar FEB UIN Jakarta), beliau mengatakan:

 "Harga itu ibarat kera, kalau sudah naik (ke pohon), susah disuruh turunnya".


***

Oh ya, membahas masalah deflasi dan inflasi, saya juga teringat salah satu dosen saya, sebut saja Pak Zuhairan, saat mengajar Teori Ekonomi Makro Lanjutan, beliau mengatakan bahwa sebetulnya konsep inflasi adalah terjadinya kenaikan harga seluruh barang dan jasa secara umum dan terus-menerus. Sehingga apabila terjadi kenaikan harga dalam sektor tertentu saja, dan yang bersifat musiman (seperti hari raya lebaran, tahun baru, musim kemarau, musim hujan, dll), apalagi bulanan (month-on-month) tidak bisa dikatakan sebagai inflasi, karena jangka waktunya yang terlalu singkat, tidak terus-menerus.




No comments:

Post a Comment

Thanks for your coming, say something here :)

Powered by Blogger.