Hasrat



Di balik etalase yang berkilau cahaya,

ia duduk manis, menantang mata.

Jari menyentuh layar yang dingin,

mengeja harga, menelan kepingan ingin.


Ada rasa "gemas" yang tak kunjung reda,

seperti rindu yang tak tahu alamatnya.

Setiap sudutnya sudah kuhafal luar kepala,

namun genggamanku masih saja hampa.


Aku menengok ke dalam dompet yang sunyi,

hanya ada angka yang belum cukup tinggi.

Mereka berbisik tentang tagihan dan nasi,

mengingatkan bahwa keinginan harus tahu diri.


Bukan menyerah, aku hanya sedang menunda,

menabung sabar di antara helaan napas yang ada.

Sebab aku tahu, rasa manis dari sebuah penantian,

adalah saat barang itu terbeli tanpa beban penyesalan.


Biarlah ia tetap di sana, menjadi bintang angan,

menyemangati peluh di setiap langkah perjuangan.

Sampai tiba masanya, semesta berkata:

"Ini upah sabarmu, bawalah ia pulang ke rumah."


****


No comments:

Post a Comment

Thanks for your coming, say something here :)

Powered by Blogger.